Pirates of the Caribean - Jack Sparrow Theme

Powered by mp3skull.com

31 Januari 2013

Sejarah Masa Kekhalifahan Abu Bakr


SEJARAH ISLAM MASA
KHALIFAH ABU BAKR ASH-SHIDDIQ

1.        Kronologi Ringkas[1]:
632 M:
·      Peristiwa Tsaqifah Banu Saidah dan pembaiatan Abu Bakar.
·      Usamah memimpin ekspedisi Mu’tah, kawasan Syria.
·      Perang Zu Qissa dan Perang Abraq, melawan pembangkang “zakat”.
·      Perang Buzakha, Perang Zafar dan Perang Naqra.
·      Konsolidasi dalam rangka perlawanan Banu Tamim dan Musailimah.
633 M:
·      Perlawanan pada Bahrayn, Oman, Mahrah, Yaman, dan Hadramawt.
·      Dimulainya penyergapan-penyergapan (ghazwah) di Irak.
·      Hirah, ibukota lama Sasani, yang dibentengi sungai Eufrat, direbut.
·      Perang-perang Kazima, Mazar, Walaja, Ulleis, Hirah, Anbar, ‘Ain at-Tamr, Daumatul Jandal, dan Firaz, yang menolak otoritas Madinah.
634 M:
·      Perang-perang Basra, Damaskus, dan Ajnadin.
·      Wafat Abu Bakar.

2.    Abu Bakr sebelum menjadi Khalifah[2].
·           Dilahirkan dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah, ayahnya bernama Abu Quhafah, sedangkan ibunya Ummu al-Khair.
·           Berasal dari Banu Taim ibn Murrah yang diserahi tugas menarik denda masyarakat Quraisy.
·           Ketika remaja mendapat julukan atiq karena kulitnya putih bersih. Sedangkan nama Abu Bakar masih belum jelas asal usulnya.
·           Karakter: lemah lembut, tidak tegaan, dermawan.
·           Track Record:
a)        Sahabat Nabi sejak kecil, dan Nabi menyebut sahabat sejati (khalil) saat di Madinah.
b)        Orang yang pertama kali masuk islam, golongan assabiqunal awwalun, dan darinya kemudian mengajak Utsman bin affan dan sahabat-sahabat assabiqunal awwalun yang lainnya (Abdurrahman bin Auf, Talhah, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah al-Jarrah).
c)        Dipercaya menjadi pemimpin Banu Taim bin Murrah, sehingga Abu Bakarlah yang meneruskan pengelolaan denda di Quraisy.
d)       Orang yang membenarkan Isra’.
e)        Saudagar yang kaya, tapi dermawan (membebaskan beberapa budak).
f)         Mertua Nabi, karena Nabi menikahi anaknya Aisyah.
g)        Orang yang bersama Nabi saat Hijrah.
h)        Mengikuti perang-perang penting.
i)          Menggantikan Nabi menjadi Imam saat Nabi sakit.

3.    Proses terpilihnya Abu Bakr di Tasqifah Banu Saidah.
·           Saat Rasulullah meninggal 12 Rabiul Awwal, awal tahun 11 H (3 Juni 632 M), Aisyah beserta istri-istri Nabi, Ali bin Abi Thalib, Abbas, dan  beberapa saudara Muhammad di rumah Aisyah.
·           Abu Bakar yang mengetahui berita tsb langsung menuju rumah Aisyah dari rumahnya di Sunuh.
·           Berita kematian Rasulullah tersebar dikalangan umat islam.
·           Mendengar berita kematian Nabi Muhammad, Umar kemudian menolak berita kematian tersebut, dia mengatakan Muhammad hanya pergi sementara seperti Musa pergi menemui Tuhannya dan akan kembali, serta mengancam akan memenggal orang yang mengatakan Nabi meninggal.
·           Abu Bakar mendengar hal itu langsung memperingatkan Umar dengan QS. 3:144, kemudian Umar tersadar.
·           Muncul berita bahwa  orang-orang Anshar lagi berkumpul di Tsaqifah Banu Saidah (balai pertemuannya Banu Saidah) hendak memilih pemimpin, dan Sa’d bin Ubadah (pemimpin suku Aus) yang sedang sakit menjadi calon terkuatnya. Mendengar hal itu Abu Bakar yang sedang dirumah Rasulullah segera menuju tempat tersebut.
·           Terjadilah proses dialektika pemilihan pemimpin di tasqifah Banu Saidah tsb[3]:
a)        Inti pidato Sa’ad ibn Ubadah:
Nabi mengajak orang Makkah, hanya sedikit yang mengikutinya. Di Madinah-lah Nabi dan para pengikutnya mendapatkan perlindungan dan pertolongan, ini menyebabkan Anshâr menjadi yang termulia, paling bermartabat dan harus didahulukan daripada Muhâjirûn.
Akhirnya, kekuasaan tidak boleh dilepaskan dari Anshâr.
b)        Inti pidato Abu Bakar:
Tak boleh ada dua pimpinan dalam satu komunitas, maka kalau Muhâjirûn memegang kekuasaan, tidak bisa tidak, Anshâr pasti akan dilibatkan.
c)        Salah seorang Anshâr:
Kami adalah para penolong Allah (Anshârullah) dan pasukan Islam, dan kalian dari golongan Muhâjirûn sekelompok kecil, datang kemari mewakili golongan kalian. Tetapi, ternyata sekarang tuan-tuan mau mengambil hak kami secara paksa.
d)       Inti pidato Hubab ibn al-Munzir ibn al-Jamuh:
Menghimbau orang Anshar untuk mempertahankan hak kekuasaan mereka, karena mayoritas Madinah  mendukung mereka. Ia lalu mengajukan kompromi dari ‘Aws.
Seperti sudah kita lihat: kompromi ini pasti tidak masuk di akal Abu Bakar, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Umar yang memahami maksud Nabi:
kesatuan komunitas Islam, dalam arti gagasan inti religius dan politis!
e)        Lalu, muncullah argumen paling meyakinkan dari Abu Bakar:
~  Menekankan kesatuan politis umat Islam seperti diteladankan oleh Nabi. Ada tujuan yang belum tuntas: kelestarian dan penyebaran risalah Allah!
~  Dua pemimpin akan membuyarkan cita-cita Nabi, seseorang yang 10 tahun belakangan ini menjadi panutan mereka.
~  Akankah ini akan dibuyarkan begitu saja, sesaat setelah Nabi wafat? Tidak boleh!
~  Dari segala orang Arab, Quraisy adalah suku yang paling dihormati, baik karena peradaban kotanya, kekayaannya, atau karena kewibawaan dan kecerdasan para pemukanya.
~  Tanggung jawab itu, diakui atau tidak, merupakan beban bagi Quraisy pengikut sejati Nabi. Jadi, bukan persoalan ambisi!
~  Jadi, kenyataan sosial, humanisme kesukuan dan “mindset keutamaan” Arab-lah yang menghendaki hal semacam itu.
~  Lalu, bagaimana mungkin Arab akan mengikuti Anshâr, kalau di negeri mereka sendiri, Madinah, sejumlah segi penting kehidupan mereka dikuasai orang lain (Yahudi) sebelum kedatangan Nabi?
~  Kekuasaan Madinah hanya dapat diakui oleh orang Arab lain kalau kendalinya berada di tangan orang Quraisy; dan dengan itu, Madinah dapat berusaha memaksakan ketundukan pada seluruh Arab.
~  Argumen ini demikian meyakinkan mayoritas Anshâr yang hadir.
~  Pemuka Khazraj lain, Basyir ibn Sa’ad Abu Nu’man segera mendukung argumen-argumen ini; diikuti oleh pemuka ‘Aws, Usaid ibn Hudzair juga mendukung, tapi dengan pertimbangan agak lain:
“Sekali Khazraj memerintah kita, maka akan tetap mereka mempunyai kelebihan atas kita, dengan mereka samasekali kita tidak akan mendapat hak apa-apa.”
~   Lalu Umar membaiat Abu Bakr terlebih dahulu dan menunjukkan beberapa keunggulan politis Abu Bakr, diikuti oleh Abu Ubaidah, dan kemudian orang-orang anshar.
~   Sa’ad ibn Ubadah tetap menolak; namun, saat itu mayoritas yang hadir sudah dimenangkan hatinya oleh Abu Bakar.

        Tampaklah bahwa pembai’atan kepada Abu Bakar bukan tindakan tanpa pikir, tetapi argumentasi meyakinkan menyangkut “struktur nalar kepemimpinan Arab” yang disampaikan dengan kata-kata yang lembut dan santun dan mengena itu, membuat tak ada tokoh lain di seantero Muhâjirûn yang lebih layak daripadanya.
·           Pembaiatan kemudian diikuti oleh semua orang baik Muhajirin dan Anshar, namun Sa’d bin Ubadah tetap tidak mau membaiat karena masih kuat menginginkan kepemimpinan ada disisinya.
·           Setelah itu mereka ikut memakamkan Rasulullah.
·           Reaksi beberapa orang elit saat itu:
~   Baiklah disinggung dulu reaksi Abu Sufyan, dia terkejut karena yang dipilih adalah Abu Bakar, bukan kalangan keluarga Nabi atau Banu Hasyim. Hal ini sangat wajar dikarenakan dia sebelum itu adalah pemimpin Quraisy dan seorang mukallaf (baru masuk islam).
~   Demikian pula dengan Abbas, paman Nabi, yang rupanya menginginkan Ali menduduki jabatan itu. Dirinya sendiri, jelaslah umum mengetahuinya sebagai seorang “mu‘allaf” pula, meski ia adalah pimpinan Banu Hasyim di Makkah.
~   Yang justru menarik adalah Ali, tampaknya ia pun menginginkan jabatan itu untuk dirinya sendiri. Ia adalah pimpinan Banu Hasyim di Madinah.
~   Dan memang Banu Hasyim secara mutlak di belakangnya; misalnya;
o  Fathimah tak pernah membai’at Abu Bakar; setelah wafatnya istrinya itu, 6 bulan kemudian, baru Ali membai’atnya;
o  beberapa Banu Hasyim terus-menerus berunding di rumah Ali berkaitan dengan bai’at pada Abu Bakar.
·           Walaupun demikian, akhirnya orang-orang akhirnya membaiat Abu Bakr dan mentaatinya sebagai seorang pemimpin sampai Abu Bakr wafat[4].  

4.    Setelah dibaiat, lalu Abu Bakr Ash-Shiddiq menyampaiakan Pidato politik. Yang pada intinya:
·           Menunjukkan bahwa masih banyak orang yang lebih baik dari dia.
·           Meminta kerjasama dari semua umat islam, dan mengingatkannya agar senantiasa lurus.

5.    Abu Bakr meneruskan kebijakan Nabi Muhammad sebelumnya yakni perang melawan romawi, yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid yang masih sangat muda, Khalifah memberikan kebijakan meneruskan apa-apa yang sudah ditetapkan Nabi sebelumnya, dengan tidak mau mengganti panglima perangnya, walaupun beberapa sahabat termasuk Umar bin Khattab tidak sepakat, dengan dalih “saya tidak akan pernah merubah apa yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya”. Pasukan ini kemudian berangkat melawan pasukan Romawi dalam perang Mu’tah II, dan akhirnya berhasil membuat pasukan Romawi mundur.

6.    Munculnya gerakan dari beberapa kabilah dan suku-suku Arab yang tidak mau untuk membayarkan zakatnya ke Medinah, walaupun mereka masih tetap menerima islam (bersyahadat)[5].
·           Kelompok-kelompok penolak zakat diantaranya;
~    Suku Bangsa Abes, Dzubyan, dan suku-suku lain disekitar Madinah.
~    Didukung oleh suku Kinanah, Ghatafan, dan Fazarah.
·           Sebab menolak zakat;
~    Menganggap setelah Nabi Wafat maka tidak ada aturan untuk membayar zakat kepada Abu Bakar.
~    Merasa dirugikan.
·           Bentuk penolakan:
~    Tidak mau membayar zakat, saat ada petugas amil.
~    Mengirim surat penolakan terang-terangan.
~    Mengepung Madinah, hendak menyerang madinah.
·           Abu Bakr mengajak musyawarah sahabat untuk memecahkan permasalahn ini, yang kemudian terjadi perbedaan pandangan antara Khalifah Abu Bakr dengan Umar bin Khattab  tentang penyikapan terhadap orang-orang yang tidak mau membayar zakat ini.
·           Umar bin Khattab didukung oleh sebagian besar sahabat berpendapat tidak ada alasan untuk memerangi mereka, karena mereka telah bersyahadat, sesuai dengan pernyataan Nabi, “Aku hanya diperintahkan memerangi orang-orang sampai mereka mengucapkan “Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah”.
·           Sedangkan Abu Bakr berpendapat bahwa mereka harus diperangi, karena mereka memisahkan antara zakat dengan perintah Allah yang lain, dan Abu Bakr kuat memegang teguh pendapat terserbut, dan pada akhirnya sahabat yang lainnya sepakat untuk memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat.
·           Abu Bakr memerintahkan kepada beberapa pasukannya untuk menaklukkan orang-orang yang tidak mau membayar zakat, salah satunya adalah pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang dengan sigapnya mampu menaklukkan suku-suku yang menolak membayar zakat tsb.
·           Dalam perjalanannya kembali, Khalid menyerang sukunya Malik bin Nauwaihirah, yang dianggap membangkang zakat, dan dianggap bekerjasama dengan Nabi palsu hendak menyerang islam. Akhirnya dalam penyergapan ini, sukunya Malik berhasil di kalahkan, dan Malik sendiri dibunuh oleh Khalid, pembunuhan terhadap Malik bin Nuwaihirah ini menjadi polemic ditubuh umat islam, karena Khalid pasca membunuh Khalid dia lalu menikahi istrinya Malik bin Nuwaihirah, si Laila yang cantik sebelum kering darah suaminya. Ada beberapa informasi yang menunjukkan bahwa sebenarnya si Malik sebenarnya sudah menyerah, dan bersyahadat, akan tetapi dia tetap dibunuh, tapi menurut Khalid dia telah membangkang dari islam.
·           Peristiwa inilah yang membuat Umar bin Khattab, marah, dan meminta Khalifah abu Bakr untuk mencopot Khalid. Akan tetapi Abu Bakr hanya memamggilnya, menanyakan duduk masalah secara personal dengan Khalid, dan sehabis itu, ternyata Khalid malah diberikan mandat memimpin penaklukkan terhadap para pemberontak arab (kaum riddah dan Nabi Palsu).
·           Umar menanyakan kebijakan itu, akan tetapi Khalifah Abu Bakr tetap pada kebijakannya untuk memanfaatkan kemampuan Khalid sebagai pimpinan militer, karena dialah yang dijuluki syaifullah (pedang Allah), dengan menyatakan “Saya tidak akan menyarungkan pedang Allah yang sudah terhunus untuk menghancurkan kekafiran”.

7.    Munculnya kaum-kaum yang murtad (keluar dari islam) dan di tambah dengan munculnya Nabi-nabi palsu[6].
·           PEMBERONTAKAN THULAIHAH & PERANG BUZAKHA
~    Siapakah Thulaihah:
o    Orang yang mengaku Nabi (sudah memproklamirkan sebelum Nabi wafat).
o    Awalnya dia tinggal di Samira lalu pindah ke Buzakha lebih strategis.
o    Pengikutnya adalah orang-orang dari Suku Tha’i, Ghatafan, Sulaim, dan bergabung pula kelompok penolak zakat yang telah dikalahkan (Suku Abes, Dzubyan, dan Bani Bakr)
~    Sebab-sebab pemberontakan
o    Sebab Thulaihah memberontak à ingin jadi Nabi seperti Muhammad (prospek jadi Nabi sangat menguntungkan)
o    Sebab banyak yang ikut à Budaya kesukuan yang tinggi (pernyataan Uyainah pemimpin Ghatafan yang menginginkan Nabi dari sukunya sendiri), tingkat rasionalitas yang rendah.
~    Pengaruh Thulaihah à kegoncangan politik di Jazirah Arab (internal), membuat ayat-ayat baru, menolak zakat, dan berusaha menghancurkan pemerintahan di Madinah.
~    Perang melawan Thulaihah dipimpin oleh Khalid bin Walid dan menang.
~    Pengaruh kemenangan Umat islam;
o    Beberapa suku kembali ke islam.
o    Beberapa lagi menyatukan diri ke Ummu Zimil/ Salma binti Malik (wanita pemberontak) yang merupakan bibi Uyainah, motif mengadakan pembalasan atas terbunuhnya suaminya pimpinan Banu Fazarah saat pertempuran Wadi al-Qurra (muslim dipimpin Zaid bin Haritsah).
o    Ummu Zimil adalah budak Aisyah yang kemudian dibebaskan.
o    Namun pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Khalid bin Walid.
~    Amnesti Abu Bakar terhadap Thulaihah sebab dia sudah masuk islam.

·           PERANG YAMAMAH
~    Musailamah ibn Habib sebenarnya berasal dari Banu Hanifah (letaknya didaerah selatan thaif), dia dijuluki oleh umat islam Musailamah al-Kadzdzab (Musailamah sang pembohong) karena mengaku dirinya Nabi, namun dia mempunyai pengaruh yang sangat besar.
~    Muslimin melawan dengan kekuatan 40 ribu pasukan dibagi menjadi beberapa divisi. Sedangkan musuh yang dihadapi kekuatannya sekitar 100.000 orang.
~    Divisi yang dipimpin Ikrimah bin Abi Jahl menyerang dahulu, tapi kalah , lalu diperingatkan Khalifah. Kemudian kepemimpinan digantikan Khalid bin Walid.
~    Dalam perang tersebut muslim yang terbunuh kurang lebih 1200 orang, dan diantaranya banyak penghafal al-Qur’an.
~    Akhirnya Khalid berhasil memenangkan peperangan dan membunuh Nabi palsu Musailamah ibn Habib, dan menikahi gadis cantik dari banu yang dikalahkan tersebut.
·           Selain itu, pasukan-pasukan islam memerangi kaum murtad yang lain, diantaranya: di Bahrain, Oman dan Muhrah, di Yaman, di Kindah dan Hadramaut.
·           Khalid bin Walid-lah yang menjadi ujung tombak dalam beberapa penaklukkan kaum murtad didaerah-daerah tersebut, dan juga sempat menikahi beberapa wanita lagi, sampai kemudian Abu Bakr memanggilnya untuk memimpin ekspansi ke Persia.

8.        Kebijakan pengumpulan mushaf al-Qur’an.
·           Dilatarbelakangi meninggalnya banyak sekali penghafal Qur’an, Umar bin Khattab takut kalau nantinya semakin sedikit orang-orang yang hafal Qur’an, bahkan jika penghafal Qur’an semuanya meninggal, padahal al-Qur’an masih tercerai berai umat islam akan tidak mengenali al-Qur’an secara utuh.
·           Oleh karena itu, dia memberi masukan kepada Khalifah Abu Bakr untuk mengumpulkan al-Qur’an dan menjadikannya 1 mushaf.
·           Awalnya Abu Bakr menolak, karena hal ini tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, namun dengan pertimbangan kemaslahatan yang diyakinkan oleh Umar, akhirnya Khalifah abu Bakr menerimanya.
·           Metode pengumpulannya adalah dengan mengumpulkan semua tulisan al-Qur’an yang tertulis pada lembaran, kulit hewan, tulang, dll, kemudian menuliskannya pada lembaran dan menyusunnya secara lebih rapi. Yang menjalankan ini adalah sahabat-sahabat Nabi yang ahli Qur’an, dan hasilnya diujikan lagi ke para penghafal Qur’an.
·           Pada masa itu mushaf al-Qur’an jadi, yang kemudian menjadi pijakan untuk membuat mushaf Utsmany pada masa Khalifah Utsman nantinya.

9.        Kebijakan Ekspansi ke Persia.
·           Berita dari al-Mutsanna, bawa dia adalah orang yang mengetahui seluk beluk persia, dan dia serta sukunya adalah orang-orang yang pemberani, disamping itu kondisi Persia saat itu dalam kondisi yang lemah, karena terjadi konflik di internal mereka.
·           Abu Bakr memberika kebijakan untuk menyerang Persia, dan memanggil Khalid untuk memimpin pasukan tersebut.
·           Disaat yang sama Abu Bakr juga memberikan kebijakan penaklukkan wilayah Syam, yang dipimpin oleh aminul ummah Abu Ubaidah al-Jarrah, dan disertakan pula para ahli-ahli perang islam, diantaranya Abu Sufyan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Ikrimah, Amr bin Ash, dll.
·           Penaklukkan yang dilakukan Khalid dibantu oleh jendral lapangan yang kuat seperti al-Mutsanna, Abu Qa’ Qa’ bin Amr, yang sangat membantu melancarkan serangan dan membuat islam senantiasa menang, diantaranya:
~    Penyerangan ke Mahdar.
~    Penyerangan ke Ulais & Nahru ad-Dain.
~    Hirah menjadi markas pasukan muslim.
~    Penguasaan Anbar & Ain Tamar.
~    Penguasaan Daumah Jandal.
·           Dalam kondisi tenang, Khalid berhaji secara diam-diam.
·           Karena kondisi pertarungan dengan Romawi yang sangat alot, maka Khalifah Abu Bakr memerintahkan kepada Khalid bin Walid, dibantu beberapa jendral lapangannya dan pasukan kecuali al-Mutsanna untuk membantu pasukan islam lain melawan Romawi. Dan Khalid harus sampai kesana dalam waktu yang cepat!.
·           Maka di Persia, pasukan islam hanya dipimpin  oleh al-Mutsanna, dan pasukan yang telah terkurangi.
·           Dalam kondisi yang seperti itu, pasukan islam diserang oleh pasukan Persia dalam jumlah besar, yang kemudian islam mengalami kekalahan.
·           Dlam kondisi kekalahan tsb, pasukan islam akhirnya mundur ke wilayah terluar Persia.
·           Al-Mutsanna lalu datang ke Medinah, untuk menunjukkan kondisi umat islam, dan meminta bantuan pasukan kepada Khalifah Abu Bakr.
·           Ternyata ketika itu, bersamaan dengan sakit, dan wafatnya Abu Bakr, sampai kemudian diganti oleh Umar. Yang kemudian kebijakan selanjutnya ditangan Umar bin Khattab.

10.    Melawan Romawi.
·           Setelah menggeser Romawi dari wilayah terluar di Arab pada perang Mu’tah II yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid.
·           Abu Bakr as-Shiddiq memerintahkan kepada beberapa sahabat yang dipimpin oleh Abu Ubaidah untuk melakuka ekspansi ke wilayah Syam (Romawi).
·           Dalam proses perlawanan dengan Romawi, islam dalam keadaan stagnan, belum ada perkembangan, sampai kemudian Khalifah menambahkan kekuatan dengan tambahan Khalid bin Walid dan beberapa pasukannya.

11.     Meninggalnya Abu Bakr.
·           Khalifah Abu Bakr memimpin selama 27 bulan.
·           Abu bakar  meninggal pada Senin, Jumadil Akhir 13 H (22 Agustus 634 M), akan tetapi dia sudah memilih penggantinya Umar bin Khattab sebelum meninggal.
·           Dia meninggal dengan menorehkan karya besar, yakni:
~    Dengan cepat menyatukan kembali Arab kedalam pangkuan islam.
~    Membangun dasar-dasar imperium Islam, menguatkan arah pembangunan islam selanjutnya, yakni menyatukan dunia dalam satu visi politik islam, masyarakat yang thoyyibah.


Facebook Share

Share It